Selasa, 06 Oktober 2020

Budaya Indonesia Lompat Batu

 Lompat Batu

 

    Indonesia kaya sekali akan tradisi unik yang masih dijaga kelestariannya hingga kini. Salah satunya tradisi Lompat Batu di Nias, Sumatera Utara. Lompat Batu menjadi andalan wisata Nias selain tentunya rumah-rumah adat dan lokasi surfing. Gambar putra Nias sedang melakukan Lompat Batu pernah diabadikan di atas uang pecahan seribu rupiah keluaran tahun 1992.

    Lompat Batu atau Hombo Batu awalnya adalah ritual inisiasi pria muda menjadi pria dewasa dan sebagai prajurit. Sebagai prajurit para pria ini harus mampu melompati batu yang tinggi. Kalau sudah mampu melompati batu, barulah mereka boleh ikut berperang. Kenapa syaratnya ini? Karena desa-desa di Nias pada zaman dulu semuanya dipagari tembok batu yang cukup tinggi. Saat berperang menyerbu desa musuh, para prajurit harus bisa melompati tembok pertahanan di desa musuh tersebut. Dan saat diburu, mereka juga harus bisa kabur dengan melompati kembali pagar desa musuh.

    Tentunya tak mudah bagi para putra Nias ini untuk mampu melompati batu yang berbentuk piramida setinggi 1,8-2,2 m ini. Perlu latihan dari kecil, sekitar umur 6 tahun. Tapi selain faktor latihan, ada juga pengaruh faktor genetik. Anak laki-laki dari ayah pelompat batu biasanya lebih mudah dan cepat untuk bisa menguasai keahlian ini. Lalu sampai kapan mereka bisa melakukan lompatan? Sampai mereka menikah. Kalau sudah menikah, mereka tak lagi melakukan Lompat Batu.


    Atraksi Lompat Batu ini bisa dilihat di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanamaya Kabupaten Nias Selatan. Para pelompat biasanya mengenakan pakaian khas Nias dengan bernuansa hitam dilengkapi dengan aksen berawarna kuning dan merah, serta tidak menggunakan alas kaki saat melakukan atraksi tersebut.

    Desa Bawomataluo sendiri merupakan destinasi populer di Nias Selatan yang selalu ramai dikunjungi baik pada hari-hari biasa maupun hari libur. Di desa yang memiliki pola perkampungan berbentuk T ini terdapat 137 rumah adat dengan Omo Sebua (Rumah Raja) yang berada di tengah desa dengan batu setinggi 210 cm untuk Lompat Batu di dekatnya.

    Di depan Omo Sebua ini terdapat meja batu lengkap dengan kursi yang juga dari batu (Daro-daro atau Harefa) serta beberapa menhir. Batu yang menjulang tinggi adalah batu Faulu (batu tanda menjadi raja), yang sebelah kanan adalah batu Loawo, yang sebelah kiri batu Saonigeho. Sementara batu datar adalah batu untuk mengenang kebesaran dan jasa kedua orang raja ini.


    Desa Bawomataluo secara harfiah memiliki makna Bukit matahari diperkirakan didirikan antara tahun 1830-1840. Desa tradisional ini berlokasi di atas bukit dengan ketinggian 270 meter diatas permukaan laut, didirikan ditempat yang tinggi agar dapat melihat dengan mudah musuhnya yang datang.

    Tradisi dari Nias Sumatera Utara ini bukan hanya sekedar permainan atau ciri khas biasa, tetapi terdapat nilai-nilai penting yang ada di dalamnya terutama dalam nilai kehidupan, kebersamaan, dan kebudayaan.

    Tradisi Lompat Batu di Nias masih masih terus dilestarikan hingga saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut sudah bukan menjadi tradisi sebagai syarat untuk mengikuti peperangan, melainkan menjadi salah satu simbol sebagai budaya masyarakat Nias. 

 

Source:

mytrip.co.id

goodnewsfromindonesia.id

 

Nama: Dewangga Suryo Laksono

NPM: 50420363

Matkul: Ilmu Sosial Dasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar