Senin, 04 Januari 2021

Agama di dalam masyarakat Indonesia dan implementasinya

Agama di dalam Masyarakat Indonesia dan Implementasinya Terhadap Kehidupan Masyarakat baik di dalam Keluarga, Lingkungan, maupun Berbangsa dan Bernegara

 


        Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati (supernatural) ternyata seakan menyartai manusia dalam ruang lingkup kehidupan yang luas. Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang per orang atau dalam hubungannya dengan bermasyarakat. Selain itu, agama juga memberi dampak bagi kehidupan sehari-hari. 

        Dengan demikian, secara psikologis agama dapat berfungsi sebagai motif intrinsik (dalam diri) yang berguna, diantaranya untuk terapi mental dan motif ekstrinsik (luar diri) dalam rangka menangkis bahaya negatif arus era global. Dan motif yang didorong keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengangumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan non agama, baik doktrin maupun ideologi yang bersifat profan.

 

Fungsi Agama dalam Kehidupan Masyarakat, Keluarga, Lingkungan, maupun Berbangsa dan Bernegara

        Masalah agama tak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam prakteknya fungsi agama dalammasyarakat antara lain

1. Berfungsi Edukatif 

        Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur suruh dan larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing-masing. 

2. Berfungsi Sebagai Sosial Kontrol

        Para pengganut agama sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya terikat batin kepada tuntunan ajaran tersebut, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai pengawasan sosial secara individu maupun kelompok.

3. Berfungsi Sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas

     Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan: iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh.

4. Berfungsi Sebagai Pendamaian

      Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa berdosa dan rasa bersalah akan segera menjadi hilang dari batinnya apabila seseorang pelanggar telah menebus dosanya melalui: tobat, pensucian ataupun penebusan dosa.       

5. Berfungsi Transformatif

        Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan baru yang diterimanya berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya itu kadangkala mampu mengubah kesetiaannya kepada adat atau norma kehidupan yang dianutnya sebelum itu.  

6. Berfungsi Kreatif 

        Ajaran agama mendorong dan mengajak para penganutnya produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruhbekerja secara rutin dalam pola hidup yang sama, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan inovasi dan penemuan baru.

     


    Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa agama sangat berpengaruh dalam kehidupan indiividu dan kehidupan masyarakat. Agama sebagai pengatur dan penunjuk arah kehidupan manusia serta agama juga dapat membangkitkan kebahagiaan batin seseorang yang paling sempurna, dan juga perasaan takut. 

     Pengaruh agama dalam kehidupan individu dapat memberi kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa sukses, dan rasa puas. Agama dalam kehidupan individu selain menjadi motivasi dan nilai etik juga merupakan harapan. Melalui motivasi keagamaan seseorang terdorong untuk berkorban baik dalam bentuk materi maupun tenaga atau pemikiran. Pengorbanan seperti ini merupakan aset yang potensial dalam pembangunan. 

    Segala bentuk perbuatan individu maupun masyarakat selalu berada dalam garis yang serasi dengan peraturan dan aturan agama dan akhirnya akan terbina suatu kebiasaan yang agamis. Misalnya seperti sumbangan harta benda dan milik untuk kepentingan masyarakat yang berlandaskan ganjaran keagamaan telah banyak dinikmati dalam pembangunan. 

 

Source:

https://media.neliti.com/media/publications/282958-sosialisasi-agama-di-lingkungan-keluarga-5f8ed007.pdf  

 

Nama: Dewangga Suryo Laksono

NPM: 50420363

Matkul: Ilmu Sosial Dasar

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar