Pentingnya Integrasi Masyarakat Indonesia
James Banks (1994) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasikan perbedaan sebagai suatu keniscayaan (anugerah Tuhan/sunatullah). Selanjutnya bagaimana masyarakat mampu menyikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleran dan semangat egaliter. Ruang pendidikan sebagai media transfer of knowledgehendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme dengan cara saling menghargai dan menghormati atas realitas yang beragam, baik latar belakang maupun basis sosio-budaya yang melingkupinya.
Pemikiran selanjutnya adalah tentang beberapa dimensi pendidikan multicultural yang saling berkaitan yaitu: pertama, content integration adalah mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran atau disiplin ilmu. Kedua, the knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin). Ketiga, an equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pembelajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya maupun sosial. Keempat, prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metodepembelajaran. Kemudian melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti olah raga, seni, berinteraksi dengan seluruh staf dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik yang toleran dan inklusif (Mahfud, 2008).
Pemikiran tersebut sejalan dengan pendapat Paulo Freire (2000), bahwa pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan, menurutnya harus mampu menciptakan tatanan masyarakat terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestis sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya.Pendidikan multikultural adalah proses penyadaran yang berwawasan sosial edukatif mencakup keragaman hidup beragama, sosial, ekonomi, dan budaya. Pendidikan ini harus dilihat sebagai bagian dari usaha yang komprehensif untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial dalam kerangka hidup bersama dalam suatu komunitas masyarakat multikultural. Sikap toleransi tidak mungkin tertanam dengan sendirinya tanpa adanya usaha sadar untuk menginternalisasikannya, dalam bentuk sosialisasi yang terus menerus dalam pendidikan.
Pendidikan multikultural adalah proses penyadaran yang berwawasan sosial edukatif mencakup keragaman hidup beragama, sosial, ekonomi, dan budaya. Pendidikan ini harus dilihat sebagai bagian dari usaha yang komprehensif untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai toleransi, empati, simpati dan solidaritas sosial dalam kerangka hidup bersama dalam suatu komunitas masyarakat multikultural. Pendidikan multikultural dapat menjadi salah satu model untuk mengatasi konflik SARA. Hal itu dapat dilakukan melalui kurikulum, pembelajaran di kelas dengan menggunakan mata pelajaran ilmu-ilmu sosial budaya dan keagamaan yang diharapkan mampu mencegah timbulnya konflik antar suku, agama, ras dan antar golongan.
Source:
https://media.neliti.com/media/publications/160023-ID-pendidikan-multikultural-telaah-terhadap.pdf
Nama: Dewangga Suryo Laksono
NPM: 50420363
Matkul: Ilmu Sosial Dasar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar